Menjadi Peer Counselor; Apa Itu Peer Counselor?

July 19, 2020


Sejak bulan Maret kemarin, aku mulai memberanikan diri untuk join sebagai peer counselor di salah satu platform yang menyediakan layanan konseling online. Sebenarnya udah lama sih pinginnya, tapi platform yang buka rekruitmen sebelumnya bikin syarat kalau mau daftar harus upload story atau postingan di Instagram. Nah, karena aku emang orangnya males kalau disuruh upload-upload, ditambah lagi off Instagram sekian lama dan males buat buka akun tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk “Nggak dulu, deh”. Btw, ini penyakit ya teman-teman, dan aku sadar ini nggak baik karena bisa ngelepas kesempatan yang mungkin nggak akan datang dua kali. Pernah juga ada salah satu platform yang buka rekruitmen, nggak pakai upload-upload-an, tapi, karena kulihat ini platform kayaknya masih baru, dan desainnya agak kurang masuk di seleraku, akhirnya aku skip lagi. (#penyakit 2).

Suatu saat, ada nih platform yang buka recruitment peer counselor. Setelah cek abcde-nya, ok nih. Akhirnya daftar, alhamdulillah keterima. Baru deh tuh, ikut satu kali pembekalan, tapi isinya 3 materi, langsung terjun untuk menangani klien via chat. Awalnya rasanya super excited karena yaa sesungguhnya aku suka banget nih materi klinis seperti ini. Fyi, selama kuliah aku selalu ambil peminatan psikologi klinis untuk mata kuliah pilihan.

Masih ingat rasanya pas dapat klien pertama itu sih. Excited banget, tapi karena terlalu asyik, pembicaraan jadi kemana-mana. Jujur pada saat itu, aku belum jago mengarahkan dan memfokuskan pembicaraan ke masalah yang paling urgent karena keterbatasan waktu (walaupun sekarang juga masih belajar, tapi lumayan lah ya! Hahaha), jadi semua masalah aku probing (menanyakan agar diberikan penjelasan lebih detail). Ketika harusnya konseling berlangsung 1 jam, ini bisa sampai 3 jam dan belum selesai. Waktu itu sempat dimarahin juga sama *ehm* mas-nya, karena aku nggak bisa jaga batasan waktu karena ujung-ujungnya begadang sampai tengah malam. Sempat ribut sih. tapi akhirnya aku paham apa maksudnya dan setuju sama apa yang disaranin, tapi yaaah, selalu ada yang pertama di segala sesuatunya 😉

Feedback dari klien ketika aku menjadi peer counselor

Gambar diatas itu yang makin menguatkan niatku untuk tetap berkontribusi di dunia klinis walaupun nanti aku dapat professional jobnya kerja di industri.

Setelah beberapa bulan, dan tidak ada follow-up dari organisasi tentang kelanjutan program, akhirnya aku mulai mencari rekruitmen program yang sama. Akhirnya diterima di platform yang sekarang ini. Overall, selama ini menyenangkan sih. Supervisinya matang. Khusus pembekalan saja diadakan selama 4 hari dengan durasi 2-5 jam setiap harinya. Kegiatannya pun bukan hanya pembekalan, dan terjun konseling, namun juga ada diskusi kasus setiap 2 minggu sekali. Pembekalan yang matang dan supervisi yang ketat ini juga yang membuat pelaksanaan konseling semakin lancar dan sesuai SOP. Apalagi sekarang aku pegang konseling via Google Meet yang artinya harus bisa mikir lebih cepat (Whooo, pusing sih kadang. Persiapannya emang harus matang). Akan tetapi, selama ini aku melakukannya dengan enjoy, happy, jadinya lebih lancar juga dan intervensinya juga lebih lengkap (pengaruh jam terbang juga sih)

Nah, tapi apa sih itu peer counselor?

Jadi, peer counselor ini adalah seorang konselor, yang bukan seorang psikolog atau psikiater, yang akan memfasilitasi terlaksananya sebuah konseling. Peer counselor dalam bahasa Indonesia merupakan seorang konselor sebaya. Peer counselor ini biasanya sudah melalui suatu pembekalan, dan selama masa tugasnya akan selalu disupervisi oleh professional di bidang kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater. Jadi, ketika melakukan sesi konseling dengan peer counselor, klien bisa cerita atau berdiskusi mengenai apapun dengan peer counselor ini. Tentunya tanpa harus merasa takut, karena walaupun peer counselor ini bukan seorang psikolog, namun karena disupervisi oleh psikolog, pasti akan melakukan konseling yang sesuai dengan kode etik yang berlaku. Jadi, jangan khawatir, karena data kalian maupun curhatan kalian akan tetap aman, nggak akan disebarluaskan, apalagi dibikin thread *ups.

Kenapa konseling dengan peer counselor dapat menjadi alternatif?

Curhat dengan peer counselor sebagai fasilitator dapat menjadi alternatif bagi beberapa orang, karena:

  • Peer counseling ini biasanya gratis. Jadi, akan sangat memudahkan bagi klien yang memiliki keterbatasan biaya, atau bagi klien yang ingin coba-coba konseling sebelum ke psikolog.
  • Dalam masa tugasnya, peer counselor ada di bawah supervisi psikolog, dan telah mendapat pembekalan mengenai pelaksanaan konseling oleh psikolog. Sehingga dapat dikatakan bahwa kompetensi peer counselor sudah memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.
  • Pembekalan yang telah dilalui peer counselor mencakup seluruh kode etik dan kualifikasi lain yang dibutuhkan oleh konselor, sehingga apabila klien bercerita dengan peer counselor, sesi konseling tersebut dapat berlangsung dengan santai, nyaman, namun tetap professional, objektif, dan tidak menghakimi.

Walaupun konseling dengan peer counselor dapat menjadi alternatif, namun ada juga batasan-batasan yang dimiliki peer counselor. Batasan tersebut antara lain:

  • Ada batasan-batasan kasus yang dapat ditangani oleh peer counselor. Jika permasalahan terlalu rumit dan butuh tindakan lebih lanjut yang bukan merupakan kewenangan peer counselor, biasanya peer counselor akan merujuk klien ke psikolog yang biasanya juga tersedia di layanan atau organisasi tersebut.
  • Sesuai dengan kode etik, peer counselor tidak memiliki kapasitas untuk memberikan diagnosis penyakit maupun gangguan kejiwaan apapun. Jadi, kalau klien konseling dan bertanya “Kak, apa aku ini kepribadian ganda?”, pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab sesuai apa yang klien harapkan, karena diagnosis terhadap gangguan hanya dapat ditegakkan jika telah melewati observasi, wawancara, dan atau tes-tes tertentu oleh pihak yang berwenang, yaitu psikolog maupun psikiater.
  • Peer counselor juga tidak berwenang untuk memberikan terapi, maupun resep obat apapun.

Kalau mau konseling dengan peer counselor, gimana caranya?

Coba cek link berikut ➡️ Konseling Online dan Rekomendasi Layanan

Konseling bersama peer counselor memiliki batasan-batasan tertentu jika dibandingkan dengan konseling bersama psikolog, namun konseling ini juga akan sangat membantu. Pada beberapa kasus yang aku temui, ada beberapa klien yang tidak membutuhkan solusi, namun hanya ingin didengarkan tanpa perasaan dihakimi karena mereka tidak memiliki orang-orang terdekat yang mampu menjadi pendengar yang baik. Beberapa dari klien juga terkadang merasa kesulitan untuk mencari solusi dari permasalahannya. Klien-klien tersebut akhirnya menemukan "Aha!" momennya sendiri pada saat konseling.

Tugas konselor bukanlah menyediakan solusi bagi setiap permasalahan, namun untuk memahami masalah dari kacamata yang lebih adaptif, karena sejatinya ketika emosi kita sedang kalut, terkadang kita sulit untuk menemukan solusi diantara kabut. Disinilah tugas konselor sebagai pihak luar yang objektif dan tanpa bias yang akan menghilangkan kabut tersebut agar solusi dapat ditemukan sendiri oleh klien.  

Semoga hari kalian menyenangkan! 😊


You Might Also Like

0 comments