Nggak apa-apa, kamu masih bernafas.
Harapan pasti ada, tapi
lelah adanya bila mengharap.
Nggak apa-apa,
satu per satu.
Lalu apresiasi hal-hal
kecil. Masih bertahan, misalnya.
Tidak perlu
didefinisikan, ini lebih sulit dari apa. Ini hanya sebuah jalan.
Ibarat track saat latihan dasar kepemimpinan, ketika kamu memilih suatu lintasan, kamu nggak tahu dimana pos 1,
pos 2 dan pos-pos lainnya. You just have to walk straight and stand still. Garis
finishnya ada, pasti ada.
Ayo dinikmati. Rehat
sejenak, minum di telaga.
Rasakan saja, tangisi
saja. Jikalau sudah habis sesak di dada, ayo jalan kembali.
Jalan cepat, jangan lari.
Sapa pohon-pohon di
tepian. Mereka juga makhluk Tuhan.
Jika berpapasan
dengan teman, jangan lupa beri salam.
Mengobrol untuk melepas lelah,
tertawa untuk menghapus gundah. Kamu belum tahu saja, Tuhan juga bisa
memberikan energi melalui percakapanmu dengan manusia.
Jangan lupa pula
isi kotak ketenangan dengan mengadu mesra dalam sujud.
Bisa, kamu bisa,
pelan-pelan. Jalan ini memang panjang dan tak mudah, tapi jangan cuma menang,
akan lebih indah jika keberhasilan kita hias dengan cerita.
“Bagiku kamu hebat karena
sudah berusaha sejauh ini. Kalau toh masih ada kurangnya, maklumlah, gak ada
yang sempurna di dunia ini.” katanya.
“Aku bangga, kamu sudah
bertahan”
