Laut Bercerita : A Review.

May 16, 2021

     Sejak beberapa bulan terakhir, I just craved for something light to read. I actually expected it will come from an adult romance novel as what I usually crave. But whenever I got into a bookstore, rasanya sayang banget ngeluarin uang buat novel since I always prioritize a self-help one (pemikiran yang gak boleh ditiru, karena at the end, novel selalu bisa naikin mood- ofc after reading some reviews before purchase). Sudah lebih dari setahun belakangan, banyak orang yang merekomendasikan buku Laut Bercerita ini, as a need-to-read list. Awalnya malas beli karena it’s all about activism dan kebetulan lagi tidak se-idealis itu lagi untuk baca buku-buku perjuangan. Tapi karena kemarin diongkosin haha, akhirnya kebeli deh itu buku.

Aktivisme sendiri pernah jadi salah satu yang meraung-raung dalam kehidupan aku pribadi sebagai mahasiswa. I lived my 3 full years as an activist (if I might say?). Sejak jadi mahasiswa baru, dan tentunya banyak sekali propaganda-propaganda yang diberikan kepada mahasiswa baru untuk turut menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat. When older said, “don’t get into a protest”, I actually well understood about why people should take a part into a protest, as a way (but not the only way) to speak our voice, karena terkadang aksi protes memiliki kekuatan tersendiri untuk membawa opini ke pemangku kebijakan secara lebih cepat. Aku juga sempat dengar beberapa slentingan tentang masa orde baru dan pergerakan mahasiswa yang menjadi salah satu kunci lengsernya kekuasaan super kuasa itu, dan buku ini semakin memberikan pemahaman mengenai aktivisme pada masa krisis dan how scary it was to be on that period.

The book itself.

Introduce you to this gorjesss one!


       Laut Bercerita adalah novel karya Ibu Leila S. Chudori yang menurutku dikemas dengan sangat cerdas sehingga mampu membangkitkan imajinasi dan emosi pembaca yang bahkan tidak pernah melihat langsung situasi panas tersebut (since I was born on a late 1996). Novel ini bercerita tentang kisah Biru Laut dan para sahabat seperjuangannya yang sama-sama senang berdiskusi mengenai buku-buku yang dilarang oleh pemerintah pada zamannya, yang juga memunculkan kekritisan tentang bagaimana seharusnya negara tidak diberlangsungkan seperti itu, dimana tidak ada kebebasan berpendapat, dan segala sesuatunya dibatasi. Berawal dari diskusi, mahasiswa-mahasiswa ini mulai bergerak dalam beberapa aksi praktis, termasuk salah satunya aksi Blangguan yang suasananya diceritakan dengan cukup detail dalam novel ini. Novel ini juga sangat menggambarkan pemikiran-pemikiran idealis khas mahasiswa yang ingin semuanya segera dikembalikan seperti semestinya, namun dilakukan dengan gerak taktis dan strategis.

Selain menggambarkan tentang perjuangan gerakan para mahasiswa ini, dijelaskan pula suasana ketika Laut dan kawan-kawan tertangkap dan disiksa selama beberapa waktu. Tergambar jelas apa saja yang telah dilalui Laut dan kawan-kawan, pemikiran, serta perasaan yang melingkupinya. Bahkan sedetil bau ruangan akan sangat tergambarkan dalam cerita. Ada juga tentunya, pengkhianatan dari tokoh yang tak terduga.

Uniknya, dalam buku juga digambarkan cerita dari sudut pandang Asmara Jati, adik kandung Laut, beserta keluarganya yang merasakan kesedihan karena hilangnya Laut, dengan memunculkan ekspresi dan mekanisme pertahanan diri yang berbeda-beda. Penyangkalan, munculnya halusinasi, hingga akhirnya berdamai dengan penerimaan. Semua tergambarkan dari perilaku yang dilakukan anggota keluarga untuk mengatasi kesedihannya masing-masing. Tentunya masih ada bumbu-bumbu percintaan yang diceritakan singkat, padat dan to the point, yang menambah bumbu-bumbu manisnya buku ini.

Oh ya, aku pribadi suka endingnya. Menimbulkan mixed feelings, sedih tetep, namun ya kondisinya semua membaik. Kondisi negara yang sudah berubah, namun tidak bisa dirasakan oleh para pejuangnya. Luka pun masih setengah basah.

What I got from the book.

Bagi milenial yang belum lahir, atau belum paham mengenai situasi dan kondisi yang tidak ada dalam buku Sejarah di sekolah, buku ini dapat menggambarkan betapa keruhnya suasana pada tahun-tahun tersebut. Tergambarkan dengan jelas pula bahwa dalam situasi yang sepesimis apapun, ada orang-orang yang berinisiatif memperjuangkan kebenaran walaupun nyawa jadi taruhan. Novel ini juga mengingatkan kembali mengenai pentingnya kehadiran para pemuda dalam negeri ini yang tidak apatis dalam melihat situasi dan kondisi bangsa dan negara. Pemuda dengan latar belakang idealisme yang tinggi, cerdik, dan berani.

Negeri ini memang sudah lebih tenang. Tapi, jangan diam. Nyaman dalam ketenangan tidak akan membawa peningkatan. Negara kita tetap membutuhkan peran-peran setiap lini masyarakat untuk menyatakan mana yang salah dan mana yang sudah terarah, serta tetap membutuhkan para pemuda cerdas, berwawasan, dan berani, untuk berlagu bersama pengeras suara dan bernada membakar kekritisannya.

You Might Also Like

0 comments